Berikut adalah sebuah cerita bersambung yang dikarang oleh rekan kita, Syaalma D.Q yang bertemakan kehidupan remaja.
- See more at: http://himappta.blogspot.co.id/2015/11/cerbung-dibalik-dunia-remaja-episode-1.html#sthash.OGgVP8cd.dpuf
Berikut adalah sebuah cerita bersambung yang dikarang oleh rekan kita, Syaalma D.Q yang bertemakan kehidupan remaja.
- See more at: http://himappta.blogspot.co.id/2015/11/cerbung-dibalik-dunia-remaja-episode-1.html#sthash.OGgVP8cd.dpuf
Berikut adalah sebuah cerita bersambung yang dikarang oleh rekan kita, Syaalma D.Q yang bertemakan kehidupan remaja.
- See more at: http://himappta.blogspot.co.id/2015/11/cerbung-dibalik-dunia-remaja-episode-1.html#sthash.OGgVP8cd.dpuf
Berikut adalah sebuah cerita bersambung yang dikarang oleh rekan kita, Syaalma D.Q yang bertemakan kehidupan remaja.
- See more at: http://himappta.blogspot.co.id/2015/11/cerbung-dibalik-dunia-remaja-episode-1.html#sthash.OGgVP8cd.dpuf
Berikut adalah lanjutan cerbung "Dibalik Dunia Remaja" Karya Syallma D.Q.
Belum baca episode 1? Baca episode 1 Disini.
Belum baca episode 1? Baca episode 1 Disini.
Hal yang pertama kali kufikirkan Setelah pulang dari rumah Chiara adalah
kehidupannya yang misterius. Sebenarnya
apa yang terjadi pada kehidupan anak itu? Berhari-hari hanya itu yang
kufikirkan.
“Avila!” ada sebuah suara nyaring yang sepertinya ku kenal.
“Lalita! Kamu kapan sampai?” tanyaku setelah mengenali siapa yang kini
berada di depanku. Sepupu dekatku yang tinggal di Bandung.
“Baru sampai kok. Kangen loo sama kamu!” ucapnya sambil mengalungkan kedua
tangannya di leherku.
Seperti yang biasa dilakukan remaja seumuran saat bertemu, kami segera
bercerita panjang lebar dengan heboh. Tak memperdulikan panggilan keluarga
lainnya.
***
Hari ini Chiara terlihat berbeda,dia sudah mulai berusaha tersenyum saat
bertemu orang lain. Namun, ucapannya kemarin semakin membuatku ingin menjadi
Sherlock Holmes yang memecahkan sebuah masalah tingkat dunia :D
“Avila, kamu kenapa?” orang yang kufikirkan ternyata sudah berada di
sebelahku.
“Mmm, gak apa-apa kok. Kamu gak ke kelas?” aku balik bertanya.
“Iya, ini mau ke kelas. Duluan ya!” jawabnya sambil tersenyum manis. Aku
iri, senyumku saja yang sudah selalu kuasah masih terlihat bagaikan cengiran
kuda -,-
***
Kembali lagi pulang bersama Chiara, tapi tak ada lagi buku di tangannya dan
matanya mulai melihat ke sekeliling. Sungguh,
aku semakin penasaran!
“Ngomong-ngomong, kamu ikut ekskul apa?” tanyaku membuka percakapan.
“Mmm, sepertinya tidak ada. Aku hanya mengikuti latihan-latihan olimpiade,
itu pun hanya sesekali.” Jawabnya santai.
“Mau ikut klub majalah sekolah?” tanyaku menawarkan. Hitung-hitung promosi
klub sendiri :D
“Gimana ya..
akan kufikirkan deh. Tapi sepertinya aku tidak berbakat, malah bisa dikatakan
paling sulit saat mengarang.”
“Gak apa-apa
kok, kan di majalah sekolah bukan hanya berupa atau berisi karangan. Karena bila
hanya itu pasti membosankan. Jadi, ada juga wawancara khusus, tips ataupun info penting. Dan terkadang.. ada
tempat curhatnya kok!”
“Emm,
baiklah akan kufikirkan.”
“Oya, aku
dengar kamu pindahan dari Bandung. Benarkah?”
“Begitulah.”
Entah kenapa ada perubahan di wajahnya saat aku membahas asal tinggalnya.
“Mengapa kau
pindah?”
“Tidak apa,
kata ibuku ingin mencari suasana baru saja. Emm, sepertinya kau akan sampai!”
ucapannya tiba-tiba mengalihkan pembicaraan. Sepertinya dia tidak menyukai topik
pembicaraan ini. Ada apa sebenarnya?
“Baiklah,
sampai jumpa!” ucapku melambaikan tangan kearahnya sambil melangkah membuka
pintu rumahku.
“AVILA!!”
ada yang mengagetiku dengan teriakan nyaring dan pelukan yang super erat.
“Lita lepas,
aku gak bisa nafas!” usahaku melawan sepertinya tidak berguna, kecuali si
pelaku berbelas hati.
“Iya, iya.
Ngomong-ngomong kamu pulang dengan siapa? Kayaknya akrab banget!” tanyanya
setelah membebaskanku. Huh, lega..
“Teman, tapi
beda kelas. Namanya Chiara.” Jawabku sambil melepas sepatu.
“Chiara?!”
tanyanya terkejut, mimik wajahnya pun berubah.
“Iya, nama
lengkapnya Chiara Aneila. Kamu kenal?” jawabku balik bertanya.
“Dia.. teman
SMP ku dulu.” jawabnya pelan, namun terdengar jelas olehku.
“Jangan
bohong, dia itu kan pindahan dari.... Bandung.” jawabku terpotong megingat asal
tinggalanya yang sama dengan tempat tinggal Lalita.
“Ya, dia
dari Bandung, bersekolah di sekolah yang sama denganku dan kebetulan sekelas
denganku.”
“Benarkah?
Lalu, apa dulunya dia punya teman?”
“Memang
sekarang...” ucapan Lalita terputus saat mendengar suara ketukan pintu dan
penggilan namaku. Segera saja kubuka, dan kudapati Chiara berdiri di sana
sambil tersenyum ramah.
“Avila,
boleh aku pinjam buku sejarahmu?”
“Siapa yang
datang La?” tanya Lalita yang berjalan menuju ke arahku. Kenapa dia malah kesini? rutukku dalam hati.
“Kamu
Lalita?” tanya Chiara yang melihat Lalita sudah berdiri di sampingku.
“Iya..
begitulah, kamu Chiara bukan?” Lalita balik bertanya.
“Emm,
sepertinya kalian sudah saling mengenal. Jadi aku tinggal
sebentar ya.. selamat berbincang!” ucapku sambil bergegas menjauhi ruang tamu.
Dengan dalih mengambil buku yang akan Chiara pinjam, tentu saja aku kini dapat
bebas selama beberapa menit dari ketegangan super. Huh, menyebalkan..
“Ini
bukunya, ada lagi?” tanyaku saat menyerahkan buku bersampul cokelat milikku.
“Tidak,
terimakasih ya bukunya. Besok akan kukembalikan!” jawabnya lalu berlari kecil menjauhi
rumahku.
“Apa saja
yang kalian bicarakan saat aku pergi tadi?” tanyaku setelah menutup pintu.
“Tidak ada.
Kami hanya terdiam satu sama lain.” Jawabnya merebahkan diri ke sofa.
“Sekarang,
bisa kau ceritakan tentang Chiara saat SMP?” tanyaku menyelidik.
“Baiklah,
kau sudah seperti akan menginterogasi tersangka saja. Jadi, Chiara dulunya
adalah anak super jenius yang sangat cantik dan ramah. Semua orang menyukainya,
dan berusaha dekat dengannya. Chiara memiliki seorang sahabat, namanya Elika.
Dia adalah murid yang sama-sama cantik dan pintar. Namun tak sebanding dengan
Chiara, Elika termasuk orang yang tertutup. Sehingga, banyak orang yang membanding-bandingkan
mereka. Chiara tidak begitu mengindahkan-nya, namun sepertinya Elika terlalu
menganggap serius. Dan tentunya lama kelamaan dia menjadi iri dengan semua hal
yang dimiliki oleh Chiara.” Lalita mulai menjelaskan.
“Lalu apa
yang terjadi?”
“Elika menjauhi
Chiara tanpa sebab yang jelas, semua orang tentunya memihak pada Chiara. Namun,
Elika akhirnya mencoba memfitnah Chiara. Dia memasukkan contekkan kedalam tas
Chiara saat ulangan, kemudian menyebarkan berita itu hingga tak ada lagi yang
percaya pada Chiara. Awalnya semua orang memang tak percaya, namun mengingat
nilai Cihara yang selalu sempurna, dan hasutan Elika yang tak berhenti,
akhirnya seperti yang kau bayangkan.” Jawab Lalita menatap kearahku.
“Pasti
Chiara trauma akan kejadian itu. Pantas saja, ia menjadi tertutup dan sulit
bergaul. Lalu bagaimana kau mengetahui semua- nya?” tanyaku bingung. Tak mungkn kan kalau Elika berkata pada
semua orang bahwa dia yang telah memfitnah Chiara..
“Aku cukup
dekat dengan Elika setelah Chiara pindah. Ternyata.. itu yang terjadi, Elika
menceritakan semuanya padaku. Aku tak bisa menyalahkan Elika atas perasaan
sakitnya saat di banding-bandingkan dengan Chiara, namun aku juga tidak bisa
membenarkan kelakuannya memfitnah Chiara. Tapi, aku tidak bisa berbuat apa-apa.
Aku terlambat mengetahuinya.” Ucap Lalita terlihat menyesal.
Ternyata,
dibalik Chiara yang terlihat pendiam dan tertutup, ada sebuah kisah pahit yang
membuatnya takut untuk berteman. Aku tidak tahu, apakah aku dapat menyembuhkan
luka itu, atau malah akan memperparahnya?!.
***
“Apa yang
sudah kamu ketahui tentang aku?” tanya Ciara tiba-tiba saat kami memasuki
gerbang sekolah.
“Masa lalu
kamu yang menyakitkan.” Jawabku sedikit menyesal.
“Lalu sekarang,
apa pendapatmu tentang aku?”
“Mungkin,
aku masih merasa bahwa kau adalah gadis yang misterius.”
“Mengapa?”
tanyanya bingung.
“Karena, kau
tidak mau membuka diri dan masih mencoba untuk menjaga jarak. Bahkan denganku.”
“Baiklah,
pendapatmu kuterima. Emm, satu pertanyaan lagi, apakah kau akan menjauhiku atau
malah membantuku?” tanyanya menghentikan langkah kakinya.
“Aku akan
mencoba yang kedua. Membantumu sebisaku. Maka, bersiaplah bosan melihatku.”
Jawabku sambil tersenyum semanis mungkin kearahnya.
“Terimakasih.
Aku tidak akan bosan.” Jawabnya membalas senyumanku sambil membelok ke arah
kelasnya.
***
“Tring..tring..tring!!”
suara bel berbunyi membuyarkan lamunanku. Ternyata sudah waktunya jam pelajaran
dimulai.
Huh.. Fisika
memang cukup menyenangkan, namun disaat kegelapan dan badai menyerang fikiranku, aku
tak mengerti apapun yang dipelajari saat itu. Kulihat di
sampingku, hanya berdiri setia sepasang bangku tanpa penghuni. Sepertinya Vita
akan kembali duduk bersama teman barunya. Ah, biarkan sajalah.. berarti hari
ini, aku akan kembali menjadi penyendiri tanpa teman sebangku. Berkutat hanya
pada buku dan papan tulis.
“Selamat
pagi anak-anak! Mungkin kelas ini akan sedikit bertambah ramai. Karena, ada
seorang murid baru yang akan tinggal di kelas ini.” Ucap bu Ratna mengawali
kelas di pagi ini.
Tunggu.. tik-tok-tik-tok, anak baru??!!
Cerbung "Dibalik Dunia Remaja" Episode 2
Berikut adalah sebuah cerita bersambung yang dikarang oleh rekan kita, Syaalma D.Q yang bertemakan kehidupan remaja.
“Avila!!” ada sebuah suara menggelegar mengganggu mimpi indahku.
“Avila Sanchia bangun!!!” suara itu semakin terdengar memekakkan telinga.
Malah kurasa ranjang yang sekarang kugunakan bergetar saking kerasnya suara
itu.
“Baiklah, kalau kau tidak mau bangun tak apa, aku juga inginkembali tidur.”
Tiba-tiba aku merasa ada yang membungkusku dengan
selimut supertebal. Lalu entah kenapa, ada kuda nil seukuran gunung Tangkuban
Perahu menindihku. Dia berguling-guling seolah-olah sedang menghaluskan aspal
di jalanan. Usahaku untuk melawan sepertiny tidak berguna. Dia malah semakin
senang, dan hanya ada satu jalan. Bangun.
“Ibu.. sudahlah aku bangun nih... jam berapa sekarang?” ucapku pelan dengan
tenggorokan kering.
“Lihat saja sendiri!” jawabnya cuek. Segera saja mataku mengarah pada jam
dinding yang tergantung manis pada sudut ruangan.
“Subhanallah, jam 7. Aku pasti
terlambat!!”segera saja kakiku mengambil langkah seribu dan bergegas pergi
mandi.
***
Ini adalah hari pertama kembali bersekolah setelah libur semester pertama.
Bersyukur gerbang masih terbuka lebar. Tak ada yang spesial selama aku
bersekolah disini. Tidak tempatnya, ruangannya, bahkan orang-orangnya. Sudah
banyak ku dengar cerita cinta disana sini. Membuat orang-orang senang
bersekolah. Bukan mencari ilmu, namun mencari gebetan baru alias cari perhatian
disana sini.
Jangankan gebetan, teman dekat pun aku tak punya. Bukan karena aku cupu
ataupun sombong, melainkan belum ada yang cocok denganku. semua masih kurasakan
hanyalah seperti serangga-serangga parasit. Yang belum mau membagi keuntungan.
Tapi entah mengapa, masih ada saja yang mau menjadi teman dekatku.
“Avila, kita duduk sebangku ya!!” ucapnya dari jauh sambil melambaikan
tangan kearahku. Vita, dialah salah satunya. Kulihat bangku nomor dua dari
depan dengan posisi tepat di depan meja guru. Ini bukan tempat yang cocok saat pelajaran matematika ataupun Kimia.
Namun untuk menyenangkan hatinya, aku hanya bisa mengangguuk dengan wajah
terpaksa.
***
Baru hari pertama masuk sekolah, guru-guru merasa rajin masuk ke kelas.
Rasanya kini aku bisa menghembuskan nafas lega setelah mendengar bel pertanda
pulang.
Kulihat dari jauh, ada seorang anak perempuan duduk tenang di bawah pohon
sambil asyik membaca buku, seolah tak memperdulikan orang lain yang mencoba
mendekatinya. Bukankah itu Chiara Aneila?
Gadis manis dengan segala kelebihan. Dan satu kata melekat erat pada dirinya,
‘Sempurna’. Tak ada yang tak mengenalnya.
Kudengar rumahnya searah dengan jalan pulangku. Kenapa tak kuajak pulang
bersama? Tak butuh waktu lama,dia hanya menatapku sebentar dan meyakinkan diri.
Kini pulang bersamanya seolah uji nyali bagiku.
Hening mencekam, seolah burung gagak beramai-ramai beterbangan diatas
kepalaku. Anehnya, dia berjalan sambil asyik membaca buku, mungkin dia sudah
hafal betul lika-liku jalan pulang tanpa melihat.
“Apa kamu selalu pulang sendiri?” tanyaku mencoba memecah keheningan. Namun
hanya anggukkan kecil yang kuterima.
“Tak
pernahkah kamucoba mengajak teman?” tanyaku kembali mencoba beramah tamah.
Namun kali ini dia hanya menjawab dengan gelengan kepala. Orang ini sangat aneh.
Jarak menuju
rumahku sudah dapat dihitung dengan langkah kaki. Rumah Chiara hanya berjarak 3
rumah setelah rumahku.
“Chiara
mampir yuk!”
“Makasih.”
Jawabnya singkat.
***
Sudah 3 hari
berturu-turut kuajak Chiara pulang bersama. Kini sudah seperti ritual sakral
yang rutin harus kulakukan, kucoba tarik dia kembali masuk ke realita. Dunia
yag sebenarnya. Kuajak dia mengobrol dan sekarang ia sudah berusaha terbuka.
Entah mengapa, semangat sekali aku ingin membantunya. Mungkin aku juga seperti dirinya.
Menunggu
adalah salah satu pekerjaan paling menyebalkan di dunia belahan manapun.
Kulihat Chiara sudah gelisah. Sepertinya dia tahu aku menunggunya. Kelas
unggulan memang terlihat lain dari yang lainyya. Guru yang kerajinan, dan murid
dengan semangat belajar (sebenarnya aku tak yakin), terlihat jelas
mendeskripsikan kelas ini.
Rupanya
Tuhan mendengarku, Guru berkepala setengah botak itukemudian membiarkan para
muridnya pulang layaknya murid normal lainnya yang sudah daritadi meninggalkan
sekolah.
“Menunggu
lama?” tanya Sanchia cemas.
“Ya
begitulah. Tapi tidak apa-apa kok.” Entah apa yang terjadi, aku merasa ada aura
buruk mengintaiku.
“Ada apa?”
“Tidak. Ayo
pulang!”jawabku menyadari imajinasiku yang terlalu berkembang.
“Kudengar kamu pintar di pelajaran sastra Indonesia ya?”
“Tidak juga, hanya suka. Tapi yang pasti aku sangat kurang dalam pelajaran
matematika dan kimia.” Jawabku sambil membuka bungkus permen lolipop yang
kubawa.
“Hari ini ada acara?” tanya Chiara tiba-tiba.
“Sepertinya tidak, hanya saja aku ingin mengerjakan tugas matematika yang
teramat sangat susah.” Jawabku kesal.
“Mau ke rumahku, mungkin bisa kubantu mengerjakan. Kalau bisa..”
“Tentu saja!” jawabku senang. Mungkin hatiku sudah melompat kegirangan.
***
Ternyata di dalam rumah, tak seperti luarnya yang terlihat dingin dan
tertutup. Orangtua Chiara sangatlah ramah dan baik. Ibunya sangat cantik mirip
sekali dengan Chiara.
“Nama kamu siapa?” tanya ibu Chiara ramah sambil menyuguhkan minuman dingin
untukku.
“Avila Sanchia bu.” Jawabku sambil tersenyum semanis mungkin.
“Jarang-jarang Chiara bawa teman. Kamu teman sekelasnya?”
“Bukan bu, hanya saja sering pulang bersama.” Setelah mendengar ucapan
ibunya tadi, aku semakin merasa penasaran denga sosok yang kini baru kukenal.
“Baik-baik ya.. ibu tinggal dulu.” Ucapnya sambil berlalu meninggalkan kami
sambil tersenyum ramah.
“Sebenarnya apa yang terjadi. Kenapa kamu jarang terlihat berbaur bersama
teman-temanmu?” tanyaku tak bisa menyembunyikan rasa penasaran.
“Seiring berjalannya waktu, kamu akan mengetahui semuanya. Dengan atau
tanpa kuberitahu.” Jawabnya misterius. Namun seakan, menyuruhku untuk mencari
tahu.
***
Bersambung...
Karya: Syaalma D.Q
CERBUNG "DIBALIK DUNIA REMAJA" EPISODE 1
"Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia."
Sumpah Pemuda, yang merupakan keputusan Kongres Pemuda Kedua yang diselenggarakan dua hari, 27-28 Oktober 1928 di Batavia (Jakarta). Keputusan ini menegaskan cita-cita akan ada "tanah air Indonesia", "bangsa Indonesia", dan "bahasa Indonesia". Keputusan ini juga diharapkan menjadi asas bagi setiap "perkumpulan kebangsaan Indonesia" dan agar "disiarkan dalam segala surat kabar dan dibacakan di muka rapat perkumpulan-perkumpulan".
Talangpadang, 28 Oktober 2015, untuk pertamakalinya dalam kurun waktu 20 tahun terakhir mengadakan upacara memperingati "Hari Sumpah Pemuda". Dibawah pimpinan ketua pelaksana, Yoni Gustirandika dan dukungan dari teman-teman HIMAPPTA semua, khususnya HIMAPPTA cabang SMK Talangpadang, upacara memperingati "Hari Sumpah Pemuda" SUKSES dilaksanakan.
Dengan dilanjutkan dengan aksi Long March yang penuh semangat dan perjuangan.
Tentu saja, semua itu berawal dari perjuangan, usaha, dan susah-payah semua anggota yang bekerja.
Tidak mungkin, dan tidak akan mungkin sesuatu yang digapai, tidak membutuhkan pengorbanan walau sedikitpun. Begitu pula dengan teman-teman HIMAPPTA, yang terus berjuang tanpa henti, mengorbankan waktu mereka, tenaga mereka, pikiran mereka, dan bahkan materi yang mereka miliki untuk mensukseskan upacara memperingati "Hari Sumpah Pemuda" ini. Setelah melewati perjalanan panjang yang melelahkan, hari-hari penuh perjuangan, penuh pengorbanan, dan bahkan melampaui ketidakpastian. Namun, semua perjuangan kami ini tidaklah sebanding, tidak sekeras, dan tidak sebesar perjuangan pemuda-pemudi pada tahun 1928 yang berpuncak pada 27-28 Oktober. Mereka mengorbankan segala yang mereka miliki untuk menyatukan bangsa kita ini, bangsa yang besar ini, bangsa yang terbagi atas banyaknya suku, ras, dan agama ini. Karena itulah, kita harus terus, dan terus mengenang perjuangan mereka. Tidak cukup hanya mengenang, kita harus melanjutkan perjuangan mereka yang telah membawa kita kedepan gerbang kemerdekaan ini. Karena itu, mari kita masuk kedalam pintu kemerdekaan tersebut, dan merubah bangsa ini menjadi bangsa yang lebih baik.
Berikut beberapa foto momen-momen upacara dan Long March memperingati "Hari Sumpah Pemuda" yang dilaksanakan di lapangan Tangsi, Talangpadang.
Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia."
Sumpah Pemuda, yang merupakan keputusan Kongres Pemuda Kedua yang diselenggarakan dua hari, 27-28 Oktober 1928 di Batavia (Jakarta). Keputusan ini menegaskan cita-cita akan ada "tanah air Indonesia", "bangsa Indonesia", dan "bahasa Indonesia". Keputusan ini juga diharapkan menjadi asas bagi setiap "perkumpulan kebangsaan Indonesia" dan agar "disiarkan dalam segala surat kabar dan dibacakan di muka rapat perkumpulan-perkumpulan".
Talangpadang, 28 Oktober 2015, untuk pertamakalinya dalam kurun waktu 20 tahun terakhir mengadakan upacara memperingati "Hari Sumpah Pemuda". Dibawah pimpinan ketua pelaksana, Yoni Gustirandika dan dukungan dari teman-teman HIMAPPTA semua, khususnya HIMAPPTA cabang SMK Talangpadang, upacara memperingati "Hari Sumpah Pemuda" SUKSES dilaksanakan.
Dengan dilanjutkan dengan aksi Long March yang penuh semangat dan perjuangan.
Tentu saja, semua itu berawal dari perjuangan, usaha, dan susah-payah semua anggota yang bekerja.
Tidak mungkin, dan tidak akan mungkin sesuatu yang digapai, tidak membutuhkan pengorbanan walau sedikitpun. Begitu pula dengan teman-teman HIMAPPTA, yang terus berjuang tanpa henti, mengorbankan waktu mereka, tenaga mereka, pikiran mereka, dan bahkan materi yang mereka miliki untuk mensukseskan upacara memperingati "Hari Sumpah Pemuda" ini. Setelah melewati perjalanan panjang yang melelahkan, hari-hari penuh perjuangan, penuh pengorbanan, dan bahkan melampaui ketidakpastian. Namun, semua perjuangan kami ini tidaklah sebanding, tidak sekeras, dan tidak sebesar perjuangan pemuda-pemudi pada tahun 1928 yang berpuncak pada 27-28 Oktober. Mereka mengorbankan segala yang mereka miliki untuk menyatukan bangsa kita ini, bangsa yang besar ini, bangsa yang terbagi atas banyaknya suku, ras, dan agama ini. Karena itulah, kita harus terus, dan terus mengenang perjuangan mereka. Tidak cukup hanya mengenang, kita harus melanjutkan perjuangan mereka yang telah membawa kita kedepan gerbang kemerdekaan ini. Karena itu, mari kita masuk kedalam pintu kemerdekaan tersebut, dan merubah bangsa ini menjadi bangsa yang lebih baik.
Berikut beberapa foto momen-momen upacara dan Long March memperingati "Hari Sumpah Pemuda" yang dilaksanakan di lapangan Tangsi, Talangpadang.

